Inilah 4 Akibat Ayah Tidak Terlibat dalam Pendidikan Anak

1

Ada pembagian tugas yang lumrah terjadi di keluarga. Tugas ayah mencari nafkah, tugas ibu mendidik anak. “Padahal kalau dilihat dari Al-Quran, figur pendidik itu ayah,” kata Adriano Rusfi dalam pertemuan Fatherhood Forum I, 24 Januari 2015, menyanggah anggapan umum di masyarakat ini. “Figur yang terkenal petuahnya dalam pendidikan anak itu Luqmanul Hakim, seorang lelaki. Saat saya cari lagi figur pendidik anak lainnya, muncul Nabi Ibrahim Alaihissalaam. Lelaki juga,” lanjutnya.

Ada kesalahpahaman yang cukup fatal dalam mendidik anak ini. Masyarakat menganggap tugas ayah cukuplah mencari nafkah, dan mendidik anak itu menjadi tugas ibu. Bahkan ada juga anggapan kalau mendidik anak itu tugas sekolah. Banyak yang menganggap mendidik anak itu tugas sampingan ayah saja.

Persepsi pembagian tugas seperti  ini menimbulkan hal yang buruk bagi perkembangan anak. Dalam Fatherhood Forum, Adriano Rusfi menjelaskan 4 hal yang terjadi saat ayah tidak mengambil tanggung jawab sebagai tokoh utama mendidik anak. Apa sajakah itu?

#1 Pendidikan anak jadi tak punya visi

“Pendidikan itu bukan semata-mata mekanisasi, namun sebuah visi. Ibu tidak bisa mendesain visi,” kata Adriano, “Ibu itu eksekutor, pihak yang terlibat dalam keseharian mendidik anak.” Sehebat apa pun seorang ibu menjadi eksekutor dalam mendidik anak, ia akan kesulitan untuk merancang visi pendidikan anak. Bukan karena tidak punya kemampuan, namun karena situasinya kerap tidak memungkinkan.

Adriano mengambil analogi konsultan perusahaan.  “Mengapa perusahaan selalu pakai konsultan? Apakah dalam perusahaan tidak ada orang-orang hebat? Pasti ada orang hebat, tapi mereka memang mengharapkan masukan dari orang yang tidak terlalu sibuk dalam rutinitas pekerjaan. Pihak ini bisa jernih melihat permasalahan,” paparnya.

Oleh karena itu, ketika ayah tak hadir memberi visi, pendidikan anak hanya menjadi mekanisasi dan rutinitas saja. Tidak ada misi, visi, ataupun strategi. Memberikan misi, visi, dan strategi inilah tugas sang ayah. Ayahlah yang berkewajiban memutuskan orientasi mau dibawa kemana, mau jadi apa, dan apa target mendidik anak.

#2: Ibu tak punya tempat curhat

Jika ayah lepas tangan dari kewajiban mendidik anak, beban berat itu menjadi sepenuhnya ditanggung ibu. Lalu ketika ibu suntuk dengan berbagai permasalahan anak, dia bisa mengadu pada siapa?

“Kita sama-sama tahu mendidik anak itu melelahkan, bikin suntuk. Coba tanya pada istri, apa tidak lelah mendidik anak?” kata Adriano menjelaskan masalah kedua yang muncul saat ayah tidak mendidik anak.

Seorang ibu butuh teman pendamping dalam mendidik anak. Apalagi saat ibu suntuk dan masalah anak semakin banyak. Ayah dibutuhkan untuk membantu mencari solusi.

Salah satu anak Adriano yang lain hobi makan sambil baca buku. Seringkali piring pecah. Istrinya bilang bilang, “Sudahlah daripada piring pecah terus, lain kali kita beli piring melamin.” Adriano menimpali bilang, “Jangan, nanti dia tidak terlatih untuk tidak memecahkan piring. Tolong belikan piring kaca dan tulis nama setiap anak di belakang piring. Kalau pecah lagi, ga usah dimarahi. Konsekuensinya tidak bisa makan pakai piring lagi.”

Ternyata setelah dikasih nama piringnya pecah lagi. Adriano tidak marah. Ia menerapkan consequential learning di rumahnya. Anak belajar dari konsekuensi tindakan, bukan dari hukuman. Konsekuensi memecahkan piring adalah anaknya tidak bisa lagi makan pakai piring.

Rupanya sang anak tidak kehilangan akal. Di dekat rumah ada pohon pisang. Daunnya ia ambil dan jadikan piring. Istri Adriano bilang, “Rupanya strateginya gagal  Bang. Ia masih bisa punya piring dari  daun.” “Tenang, piringnya ceper. Mulai hari ini makanan harus berkuah,” jawab Adriano.

Sebagai orang tua terkadang kita memang harus adu cerdik dengan anak supaya tujuan pendidikan bisa tercapai :). Praktis anak tak bisa makan kuah tanpa piring. Akhirnya dia tabung uang jajannya untuk dibelikan piring. Sejak saat itu tidak pernah memecahkan piring lagi.

Istri butuh suami untuk hal-hal seperti ini. Jangan berharap banyak istri akan mengeluarkan ide-ide semacam itu. Istri sudah jenuh dengan rutinitas. Di sinilah kehadiran figur ayah dibutuhkan. Sebagai teman curhat yang ikut turun memberi solusi.

#3 Anak tak punya individualitas

“Penelitian Badan Narkotika Nasional menunjukkan bahwa anak-anak yang tidak dekat dengan ayah 7 kali lipat lebih mudah mengonsumsi narkoba daripada anak-anak yang dekat dengan ayahnya,” tutur Adriano. Bukan hanya narkotika, anak-anak yang tumbuh tanpa ayah cenderung punya masalah kenakalan yang berat, seperti tawuran sampai hamil di luar nikah.

Mengapa anak yang tumbuh tanpa didikan ayah ini lebih banyak menghadapi masalah? Penyebabnya anak tidak punya individualitas. “Anak yang tidak punya individualitas tidak punya ego. Dia tidak punya keberanian untuk berbeda. Dia tidak punya keberanian untuk menunjukkan, ‘Ini saya. saya memang beda dengan kamu.’ Ayah yang bisa mengajarkan individualitas,” jelas Adriano.

Seorang ibu punya kecenderungan membangun sosiabilitas anak. Ibu akan mendidik anak agar mudah diterima masyarakat. Anak yang santun, ramah, anggun, tidak  pernah berantem, dan kompak adalah hasil didikan ibu. Namun jika ayah tidak ikut mendidik, anak mudah terbawa arus pergaulan yang buruk.

“Ketika ayah absen dari pendidikan anak, lahirlah anak-anak seperti sekarang. Anak-anak yang kompromistis. Teman-temannya merokok, dia ikut merokok. Temannya mengganja, dia ikut. Teman ikut geng, dia ikut. Teman seks bebas, dia ikut juga. Anak ini tidak berani bilang, ‘No, sorry! Teman sih teman. Tapi bukan berarti saya harus selalu nurutin kamu,’” lanjut Adriano.

Karena itulah, saat seorang anak terjebak dalam pergaulan negatif, yang salah pastilah ayahnya. “Mengapa ayah tak mengajarkan individualitas? Mengapa ayah tidak mengajarkan untuk berkata tidak?” kata Adriano retoris. Dalam istilah Ustadz Ajobendri, pengisi Fatherhood Forum II di bulan Februari 2015, anak-anak seperti itu diistilahkan “Amar Ma’ruf Nyambi Munkar”

#4 Anak terlambat dewasa

“Dulu Bung Karno pernah sebut, ‘Beri aku 10 pemuda, akan aku guncang dunia.’ Bukan seperti sekarang ini,’Berikan aku satu saja remaja, pusing aku dibuatnya,’” kata Adriano.

Dalam membesarkan anak, salah satu tugas orang tua adalah menjadikan mereka akil baligh. Akil adalah dewasa secara pemikiran. Parameter akil diantaranya mandiri, mampu membuat keputusan sendiri, mampu mengambil tanggung jawab, dan mampu mencari nafkah sendiri. Sedangkan parameter baligh adalah sehat jasmani. Sehat ini ditunjukkan dengan mampu bereproduksi, dengan tanda mimpi basah pada laki-laki dan menstruasi pada perempuan.

Menjadikan anak baligh adalah tugas seorang ibu, sedangkan menjadikan akil adalah tugas ayah. Dulu, anak mencapai fase akil berbarengan dengan fase baligh, yakni usia 12-15 tahun. Namun kini anak baligh lebih cepat namun akilnya sangat lambat. Untuk menjadikan anak akil, dibutuhkan ketegaan untuk menjadikan anak dewasa secara akil.

Seorang ibu tak akan tega membuat anak dewasa secara pemikiran dan perilaku. Sulit  bagi ibu untuk tega melihat anaknya yang baru 12 tahun harus mencari uang sendiri, atau misalkan harus mencuci baju sendiri. Ayahlah yang bisa mengesampingkan emosinya dan melihat anaknya kesusahan. Dengan kesulitan inilah anak akan tumbuh dewasa.

Ketika ayah tidak turun tangan mendewasakan anak, lahirlah remaja. Generasi yang tidak bisa disebut anak-anak, tapi belum pantas dipanggil dewasa.

Inilah 4 hal yang terjadi ketika ayah berlepas tangan dalam mendidik anak. Keempat permasalahan ini seharusnya tidak terjadi jika ayah mengambil tanggung jawab sepenuhnya dalam mendidik anak. Lalu jika realitanya ayah sibuk mencari nafkah sampai-sampai kurang waktu bersama anak, apa yang harus ayah lakukan? Apakah ayah harus meninggalkan pekerjaannya? Tidak, karena yang anak butuhkan dari ayah bukanlah kuantitas waktu, namun visi, perhatian, dan teladan. Seperti apakah visi dan perhatian yang anak butuhkan? Itulah yang dibahas di Fatherhood Forum II di bulan Februari 2015.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *