Karena keterbatasan ekonomi, Desi sekolah sambil jualan

1

Keterbatasan ekonomi biasanya menjadi alasan bagi seseorang untuk tidak melakukan hal-hal yang seharusnya bisa dilakukan. Namun, hal itu tidak ada dalam kamus hidup seorang Desi Priharyana. Siswa kelas 1 SMKN 2 Yogyakarta ini rela mengayuh sepeda ontel miliknya dengan dipasangi gerobak di kanan kiri yang berisi Slondok sejauh 12 kilometer dari rumah ke sekolahnya. Slondok ialah camilan tradisional khas Yogya berbahan dasar singkong, mirip keripik.

Hal ini ia lakukan lantaran orang tuanya yang memiliki keterbatasan ekonomi. Dari usahanya tersebut ia dapat membiayai sekolahnya sekaligus membantu kedua orang tuanya dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Berkat ketekunan melakoni usahanya, Desi pun telah memiliki pelanggan tetap untuk slondok-slondok yang dijualnya. Di antaranya ada ibu-ibu pengajian, wisatawan lokal dan juga asing yang mengunjungi Yogya, bahkan sampai Wakil Bupati Sleman, Yuni Satia Rahayu, pun pernah membeli slondoknya.

Sikap Desi yang supel, mudah bergaul dan tak canggung terhadap orang baru memang suatu sikap penting yang patut dimiliki oleh seorang pengusaha. Dari usahanya ini Desi pun mengaku ingin melanjutkan usaha slondoknya ke tahap yang lebih lanjut, namun tentunya nanti setelah ia menyelesaikan tugasnya sebagai pelajar. Kalau sekarang waktunya belum ada, nanti kalau sudah lulus pingin saya kembangkan usaha ini, ujar anak muda kelahiran 8 Desember 1995 ini.

Pintarnya Desi dalam membawa diri dalam bergaul membuatnya bisa bergaul di banyak kalangan, tak terkecuali satpam sekolah. Dasiman, salah satu satpam yang sudah mengabdikan dirinya di SMKN 2 Yogyakarta sejak 1999 dibuat terheran-heran dengan mental yang dimiliki Desi. Pertama kali ia melihat Desi mendaftar, ia tercengang dengan kelakuan Desi yang santai dengan mengayuh sepeda lengkap dengan grobok yang berisi slondok. Saya itu seumur kerja di sini belum pernah lihat ada siswa kayak Desi itu, mentalnya sudah jadi, ujarnya sambil mengingat kejadian pertama kali mengenal Desi.

Selain satpam sekolah, Desi juga sangat dikenal oleh segenap guru-guru SMKN 2 Yogyakarta. Salah satu guru Desi di SMKN 2 Yogyakarta bernama Rosmy mengaku bahwa Desi tidak pernah mengalami kesulitan dalam hal menerima pelajaran. Meski tidak menjadi idola dalam pelajaran di sekolah, saya bangga punya murid yang memiliki mental kuat seperti Desi, ujar Rosmy. Dengan keadaan seperti ini, Desi sudah hebat, beban yang ditanggungnya bukan hanya sekadar mengikuti kegiatan belajar di sekolah, tetapi dia bisa tetap fokus, tambahnya lagi. Desi tercatat selalu mengantongi peringkat 10 besar di kelasnya.

Seorang Desi Priharyana adalah sebuah bukti yang tidak terbantahkan dari hasil sebuah tekad bulat. Secara sepintas memang keterbatasan ekonomi adalah sebuah jalan buntu dari keinginan untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Namun jika dilihat lebih mendalam, akan selalu ada jalan yang dapat ditempuh untuk mewujudkan keinginan, asalkan kita mau menempuhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *