Kisah Anak Penjual Jamu yang Raih Sarjana Pendidikan Fisika dengan IPK 3,49

1

Tak semua orang dapat dengan mudah mendapatkan titel Sarjana S1, salah satunya Sutriyani (23) warga dusun Samen RT 01, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Kabupaten Bantul. Lahir di keluarga sangat sederhana anak terakhir dari dua bersaudara ini membuktikan cibiran beberapa orang yang ditujukan kepadanya dan ibunya jika anak penjual jamu juga bisa menjadi Sarjana.

Sejak kecil Sutriyani sudah memiliki semangat untuk dapat sekolah setinggi-tingginya. Apapun ia lakukan untuk dapat meraih cita-citanya itu. Bahkan perempuan ini tak pernah sekalipun mau diantar oleh orang tua setiap kali mendaftar sekolah.

“Sejak SD saya selalu daftar sekolah sendiri,” ujar Sutriyani (23) saat ditemui Kompas.com di rumahnya, Jum’at (10/04/2015).

Jangan bayangkan, mendapatkan uang saku setiap kali berangkat sekolah. Bisa membayar uang sekolah saja bagi Sutriyani sudah sangat bersyukur, sebab pendapatan sang ayah, Ponijan, yang berprofesi sebagai tukang becak saat itu hanya cukup untuk memenuhi hidup sehari-hari.

Kondisi Hidup dalam segala keterbatasan tak sekalipun membuat Sutriyani mengeluh. Bahkan ketika duduk di bangku SMP dan kondisi sang ayah mulai sakit-sakitan, setiap pulang sekolah, Sutriyani tidak langsung istirahat seperti teman-teman lainya. Ia rela pergi mencari rumput untuk memberi makan ternak sapi milik ayahnya.

Sapi itulah yang menjadi harapnya bisa melanjutkan ke jenjang sekolah berikutnya. Kondisi itu diperparah ketika pada 2006 lalu Yogyakarta di landa gempa besar. Saat itu rumah satu-satunya roboh.

Harapan untuk bisa melanjutkan sekolah pun memudar, namun sang ibu mencoba kembali bangkit dengan memulai usaha jualan jamu keliling.

Bantuan pemerintah bagi korban gempa berupa sebuah sepeda pun dapat membantu usaha jamu keliling yang mulai dirintis.

Lulus dari SMKN 1 Jurusan Tata Boga Sewon Bantul, Sutriyani berniat untuk meneruskan ke jenjang S1. Cibiran pun mulai berdatangan kepadanya dan ibunya. Beberapa orang mencibir apa bisa anak tukang jual jamu keliling kuliah sampai sarjana.

“Banyak yang mengejek, anak bakul jamu kok mau kuliah, apa bisa? Ibu yang selalu menasehati agar tidak menghiraukan omongan seperti itu, yang penting niat dan ada usaha,” tegasnya.

Cibiran itu semakin membuat Sutriyani semakin terlecut. Ia pun lantas berinisiatif mendaftar jalur khusus Beasiswa Bidik Misi dan diterima. Namun sepengetahuannya, untuk bisa kuliah harus bayar sekitar Rp 7 juta. Ia pun lantas meminta ijin ke ibunya, Tukilah. Mendengar uang yang harus dibayarkan cukup mahal, Tukilah pesimis mampu membayar. Sebab selama ini pendapatan dari berjualan jamu terbilang pas-pasan.

“Kan sebenarnya gratis, tapi saat itu setahu saya bayar Rp 7 juta. Saya batal dan lalu daftar ke UST, diterima jurusan pendidikan Fisika,” ucapnya.

Ia pun menyadari jika sepenuhnya uang kuliah selama di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) ditanggung ibunya akan cukup berat. Apalagi saat itu, pendapatan dari menjual jamu juga untuk memperbaiki rumah.

Sutriyani lantas bertekad semester dua harus mendapatkan beasiswa. Ia pun rela pulang malam ke kos-kosan temanya untuk bertanya pelajaran yang belum dipahaminya. Sebab, di SMK ia tidak pernah mendapat pelajaran fisika. Berkat kerja kerasnya dalam belajar hasil nilai yang diperolehnya pun. Beasiswa yang diharapkan pun diraihnya.

“Dapat beasiswa biaya kuliah dipotong setengah,” ucapnya.

Demi lebih meringankan ibunya membiayai kuliah, Sutriyani juga rela membuat roti kering khususnya ketika Hari Raya Lebaran. Ia pun rela tidak tidur untuk membuat roti. Dalam semalam Sutriyani mampu membuat roti kering hingga 25 toples ukuran sedang. Uang hasil jualan itulah yang ditabung sebagian untuk biaya kuliah ketika pendapatan dari jualan jamu kurang.

“Jualan roti iya, memberi les privat anak-anak juga iya. Apapun asal halal untuk kuliah saya lakukan,” tandasnya.

Usaha keras sang ibu berjualan Jamu keliling dan tekad yang kuat dari Sutriyani akhirnya mengantarkan hingga titel Sarjana S1 Pendidikan Fisika. Sutriyani dapat lulus dengan kuliah 3,5 tahun dan IPK terbilang cukup tinggi yakni 3,49. Pada Desember 2014 lalu Sutriyani resmi diwisuda.

“Berkat Jualan jamu saya bisa jadi sarjana S1,” ujarnya.

Kini sepeningal ayahnya, Sutriyani tinggal bersama ibunya dan kakaknya. Sembari mencari pekerjaan, Sutriyani membantu usaha ibunya dengan berkeliling jualan jamu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *