Menteri Anies Diminta Fokus Benahi Pendidikan, Bukan Urus Doa

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan disorot tajam setelah mewacanakan ingin menyamakan konsep doa di sekolah. Ketua Badan Pengurus Lazis Muhammadiyah, Hajriyanto Y Thohari menegaskan masalah tersebut sebaiknya tak dipersoalkan lebih lanjut

“Menyamakan konsep doa sebenarnya itu sudah selesai masalahnya. Praktik yang selama ini sudah baik. Setiap wilayah memiliki tradisi berdoa yang baik. Doa di daerah yang mayoritasnya Islam, yang lainnya (agama lain) menyesuaikan. Di Papua mayoritasnya agama Kristen, yang lainnya juga sama, menyesuaikan,” ujar Hajriyanto di Fakultas Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta, Jumat (12/12/2014).

Politisi Golkar itu pun mengingatkan jangan pernah mengatasnamakan Pancasila untuk mengubah konsep doa. “Pancasila itu bukan menyamakan agama, Pancasila bukan menafikan agama,” tegas Hajriyanto.

Menurut mantan Wakil Ketua MPR itu, harusnya Mantan Rektor Universitas Paramadina itu memikirkan kebijakan yang lebih penting. “Ada persoalan yang lebih penting, misalnya (mengatasi) pendidikan yang mahal, jangan membenahi kebijakan yang tak ada relevansinya dengan tingkat pendidikan yang baik,” jelasnya.

Dirinya pun meminta agar menteri Anies juga bisa membenahi sekolah-sekolah yang sudah tak layak. Juga menyediakan buku-buku ajar yang baik.

“Sekolah harus betul gratis, perguruan tinggi yang murah dan terjangkau, itu saja yang harus dipikirkan,” tandasnya.

Sebelumnya, Anies Baswedan telah meluruskan beberapa argumen yang mengenai rencana evaluasi tata cara berdoa di sekolah.

Dia menginginkan agar anak-anak sekolah di dalam negeri dididik untuk lebih religius. Antara lain, dengan membuka dan menutup proses belajar mengajar dengan doa.

Mengenai doa yang akan digunakan, lanjut Anies, itu bukan domain pemerintah. Kementerian akan terlebih dahulu mendiskusikan hal ini kepada Kementerian Agama. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *