Mobil Tua Tembus Hutan Pinus Bawa 40 Bocah ke Sekolah…

1

Mobil keluaran tahun 1980 milik Sumardi (34), warga Dusun Jayengan, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, menjadi alat transportasi bagi para siswa sekolah dasar (SD) untuk menuju sekolah. Setiap hari, mobil ini bisa mengangkut sampai 40 siswa SD. 

Kepada Kompas.com, Selasa (22/9/2015), Sumardi menjelaskan, mobil dengan pelat nomor DK 1260 FL tersebut ia beli seharga Rp 15 juta saat masih bekerja di Bali. Ia kemudian menjadikan mobil itu sebagai alat angkut bagi siswa yang ada di dusunnya menuju sekolah yang berjarak sekitar dua kilometer.

“Mobil ini mobil perjuangan. Sudah tiga tahun terakhir ini untukngangkut anak-anak sekolah. Biasanya, mereka bayar seikhlasnya, malah terkadang ada yang tidak bayar. Saya ndak masalah yang penting anak-anak berangkat sekolah,” kata lelaki kelahiran Banyuwangi, 8 April 1981, tersebut.

Sekolah dasar yang terdekat dari dusunnya berjarak sekitar dua kilometer. Namun, kondisi jalannya sangat rusak, terutama saat hujan. Kondisi jalan tersebut yang membuat anak-anak kerepotan saat berangkat sekolah.

“Kalau hujan becek dan kalau musim panas berdebu. Jalannya juga berbatu dan terjal. Harus lewat hutan pinus. Mobil saya berkali-kali tersangkut batu. Untungnya dua bulan terakhir ini (batu) sudah mulai diuruk oleh warga,” kata Sumardi.

Jika mobilnya sudah penuh, tidak jarang Sumardi harus dua kali pergi pulang untuk membawa kembali siswa yang tidak terangkut.

Bukan hanya saat berangkat, Sumardi juga menunggu para siswa hingga mereka pulang untuk diantar kembali ke dusunnya yang berada di bawah kaki Gunung Raung.

Kegiatan Sumardi dimulai sekitar pukul 05.30 WIB. Ia mulai memanaskan mobil tuanya yang berwarna hitam dengan bagian dalam sudah dimodifikasi dengan tempat duduk menyamping. Setelah itu, beberapa siswa mulai mendatangi rumahnya dan masuk ke dalam mobil Sumardi.

Selanjutnya, Sumardi mulai keliling kampungnya untuk menjemput satu per satu siswa yang akan berangkat sekolah. “Bisa sampai 40 anak. Biasanya yang perempuan dan yang masih kelas I atau II SD di dalam. Yang laki-laki bergelandotan di luar. Tapi, saya usahakan bisa masuk semua. Yang penting mereka sekolah,” kata Sumardi.

Ongkos

Walaupun tidak mematok ongkos, ada beberapa orangtua siswa yang membayarnya seminggu sekali. Di Dusun Jayengan, ada 315 kepala keluarga yang mayoritas bekerja sebagai penyadap di lahan milik Perhutani.

“Saya tidak menarget. Tidak menghitung, diberi beberapa saja terima kasih. Kalau dengan operasional perbaikan mobil ya ndak nutut,” kata dia sambil tertawa.

Bahkan, mobilnya pernah mangkrak selama 10 hari lebih karena rusak. Saat mendapatkan rezeki, ia segera memperbaiki mobilnya.

Selain mengantarkan anak-anak sekolah, Sumardi juga menanam singkong dan beternak kambing di lingkungan rumahnya.

Tidak jarang, mobil tua milik Sumardi juga dimanfaatkan oleh warga yang sakit atau melahirkan untuk diantar ke bidan atau puskesmas.

“Di sini enggak ada bidan yang menetap. Jadi, kalau ada yang lahiran, jam berapa pun ya saya yang ngantar dan saya nggakminta biaya. Nggak tega,” tutur dia.

Sumardi mengaku tidak pernah berpikir untuk berhenti mengantarkan anak-anak dusunnya untuk berangkat sekolah. “Saya punya anak walaupun belum sekolah dan saya akan melakukan apa pun agar anak saya bisa berangkat sekolah. Jadi, dalam kondisi apa pun, anak-anak harus sekolah,” kata dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *