Nilai 100 UN Bahasa Indonesia, Dwi Tahu Diri, tak Minta Hadiah dari Ortu

1

Mendapat nilai 100 Ujian Nasional (UN) untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan hal biasa bagi Dwi Agus Setiawan.

Siswa SMA ITCI, Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur ini memang sudah memprediksi usai mengikuti ujian pelajaran Bahasa Indonesia.

Bagi Dwi, pelajaran yang menjadi favorit justru Matematika dan Fisika. Diharapkan dua mata pelajaran tersebut meraih nilai sempurna.

“Usai ujian saya sudah yakin dapat nilai 100. Hari pertama kan otak masih fresh,” ujar Dwi saat ditemui Tribunkaltim,co di rumahnya, Rabu (13/5/2015).

Anak kedua dari tiga bersaudara ini mengaku, sebelum ujian sempat puasa selama tiga hari. Memang selama ini setiap menghadapi ujian sering berpuasa.

Sejak duduk di bangku sekolah, Dwi dikenal anak yang pintar. Mulai kelas satu sampai kelas tiga selalu masuk empat besar. Bahkan pernah meraih peringkat pertama dan terakhir kelas tiga meraih peringkat keempat.

Dwi pertama kali mengetahui dirinya mendapatkan nilai 100 dari gurunya. Menurut guru, dapat informasi setelah membaca koran yang menyebut namanya mendapatkan nilai 100 pelajaran Bahasa Indonesia.

“Saya tidak terlalu kaget menerima nilai sempurna, karena sejak awal kan sudah diperkirakan. Bangga saja bisa mendapatkan nilai sebagus itu,” tutur anak pasangan Dodosih Mulyono dan Sriatun ini.

Mengenai persiapan yang dilakukan sebelum ujian, Dwi mengungkapkan tidak melakukan persiapan khusus. Selama ini selalu belajar di rumah sepulang sekolah. Apalagi dirinya lebih senang berada di rumah daripada bermain bersama teman-temannya. Bahkan temannya yang sering mendatangi untuk bermain atau belajar bersama.

Bagi Dwi lebih senang membantu bapaknya di bengkel milik orangtuanya. Pria kelahiran 18 Agustus 1997 ini akan melanjutkan kuliah di Universitas Mulawarman jurusan Statistik. Alasan mengambil jurusan ini karena memang suka mata pelajaran menghitung.

“Saya lulus jalur undangan dan tinggal mendaftar ulang,” akunya.

Mengenai cita-cita, Dwi mengaku hanya ingin bekerja di kantoran. Setelah sukses meraih nilai terbaik, ia belum tahu apakah akan kembali puasa sebagai bentuk rasa syukur atau tidak. Bukan hanya itu, dirinya juga tidak mengharapkan hadiah dari kedua orang tuanya atas prestasi yang diraih ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *