Ospek berisi kekerasan dan pembodohan sudah tidak zaman

1

 Meski sudah diwanti jauh-jauh hari, ternyata kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS) kembali menelan korban jiwa. Seorang siswa SMP di Bekasi meninggal usai mengikuti acara itu.

Kesan seram Masa Orientasi Siswa (MOS) atau diistilahkan pelonco memang sulit dilepaskan. Di masa lalu, kegiatan itu seolah menjadi ajang balas dendam para senior kepada juniornya. Bermacam tindakan kekerasan terjadi, mulai dari fisik hingga ucapan. Saat ini konsep itu disebut bullying.

Meski dengan dalih membentuk keakraban antar angkatan, tetapi banyak agenda kegiatan malah janggal dan mengada-ada. Bahkan seolah membuat adik kelas terlihat bodoh. Maka tak heran kegiatan itu bertahun-tahun menjadi ajang mewariskan dendam dan kekerasan terselubung secara turun temurun.

Menurut Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun, kegiatan MOS maupun Ospek haruslah sesuai dengan kebudayaan (culture) yang berlaku di lingkungan pembelajaran itu sendiri.

“MOS atau Ospek itu sebuah proses pengenalan. Seharusnya itu merupakan waktu yang digunakan untuk pihak pendidik dan segala pihak yang terkait untuk mengenalkan lingkungan calon siswa/mahasiswa dalam kegiatan belajar mengajar nantinya
Ospek menurut Ubedilah mestinya diarahkan buat mengetahui budaya sekolah, baik akademik maupun ekstrakurikulernya. Hal itu bertujuan supaya siswa memahami kegiatan apa saja yang harus dia lakukan selama berada di sekolah tersebut.

“Sehingga tidak harus sampai sifat seperti militer diterapkan dalam MOS. Karena militer seperti itu sebenarnya tidak dibenarkan dalam MOS. Jadi kembalikan MOS tersebut ke sebenarnya, dengan membutuhkan sistem yang dibuat oleh sekolah yang bisa dibangun tentunya oleh dinas/ seluruh pihak yang terkait di sekolahan tersebut, guna menutup kemungkinan adanya kekerasan,” ujar Ubedilah.

Ubedilah memaparkan, kegiatan MOS memakan waktu selama tiga hari ini, pihak sekolah memegang peranan paling penting, yaitu dalam memperkenalkan akademik pelajaran guna standar lulus sekolah, dan pengenalan ekstrakurikuler (kegiatan non akademik) bertujuan agar siswa memiliki kesadaran beraktivitas. Sehingga membantu kreatifitas siswa maupun memupuk kemampuan kepemimpinan siswa dalam kegiatan kesiswaan.

“Pengenalan akademik dan non akademik itulah yang seharusnya diperkenalkan. Itu yang ideal dalam MOS, bukan sebuah tindakan kekerasan terhadap siswa. Melatih disiplin boleh, tetapi kekerasan tidak boleh,” ucap Ubedilah.

Ubedilah melanjutkan, buat kegiatan Ospek di sejumlah kampus, diperlukan juga pengenalan budaya Universitas itu sendiri. Seperti mahasiswa baru dikenalkan dengan kebudayaan kampus, tentang berdiskusi, riset, menulis, dan lain sebagainya.

“Karena kampus merupakan laboratorium peradaban para mahasiswa untuk masa depan. Memperkenalkan mahasiswa baru untuk sejarah hidupnya agar masuk ke dunia yang lebih luas,” tambah Ubedilah.

Sama halnya dengan MOS, Ubedilah merasa ospek itu penting dan harus tetap ada. Namun beberapa muatan yang ada dalam Ospek ada yang harus dihilangkan dan diperbaiki.

“Yang diperbaiki yaitu kultur akademik, budaya aktivitas kegiatan organisasi serta, bagaimana hubungan antara universitas dengan masyarakat. Karena kampus adalah bagian perubahan masyarakat untuk peduli terhadap program apa saja yang ada di negara ini, guna memajukan bangsa Indonesia itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *