Pelajar di Desa Letta Mendaki Gunung dan Terobos Hutan Demi ke Sekolah

1

Klaim pemerintah yang menyatakan berhasil memeratakan infrastruktur pendidikan dan transportasi di berbagai daerah Indonesia, ternyata hanyalah pepesan kosong.

Betapa tidak, banyak siswa di daerah pelosok yang ternyata masih kesulitan mengakses pendidikan formal lantaran daerahnya masih sangat terisolasi.

Desa Letta, Kecamatan Lembang, yang berada 100 kilometer dari Ibu Kota Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, bisa menjadi contoh.

Letak desa itu, ada di Puncak Pegunungan Bakaru. Kondisi desa ini sangat terisolasi, terlebih untuk urusan pendidikan.

Sarah misalnya. Siswi SMP Negeri Letta, asal Dusun Kaluku, Desa Letta, ini mengaku setiap hari harus berjalan kaki lebih dari enam kilometer agar bisa sampai ke sekolah.

Seperti anak-anak lain di Desa Letta, agar bisa tiba tepat waktu pada pukul 9.00, Sarah sudah harus berjalan kaki meninggalkan rumah selepas subuh.

Berbekal kaus, seragam, dan sandal jepit, Sarah dan teman-temannya setiap hari menaklukkan pegunungan terjal, hutan belantara, serta sungai.

Sarah mengakui, agar perjalanan tak terasa melelahkan dan membosankan, mereka yang tinggal terpisah di beberapa dusun di Desa Letta kerap saling tunggu untuk mencari teman seperjalanan.

“Saya berangkat subuh hari ke sekolah agar tidak terlambat. Karena tarif ojek mahal, terpaksa jalan kaki berkelompok dengan teman lainnya,” kata Sarah.

Satu-satunya alat transportasi yang ada di kawasan itu adalah ojek, dengan tarif yang terbilang mahal, yakni Rp 50.000 untuk satu kali perjalanan.

Alhasil, moda transportasi itu tak menjadi pilihan bagi para siswa yang ingin tetap menuntut ilmu tersebut. Rutinitas yang melelahkan dan menyita hampir seluruh waktu pun mereka lakoni demi bisa tiba di sekolah.

Namun, semangat anak-anak desa itu tak pupus. Hasniar, salah satu guru honorer yang sudah lima tahun mengabdikan hidup di lokasi terpencil itu mengaku bangga dengan semangat bersekolah para siswanya.

“Saya bangga. Meski jaraknya jauh mereka pantang menyerah dan tetap semangat datang ke sekolah,” ujar Hasniar.

Tantangan lebih besar akan terlihat saat anak-anak ini nanti harus melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA. Mereka harus meninggalkan kampung halaman dan orangtua karena SMA terdekat hanya ada di ibu kota kabupaten atau kecamatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *