Perlukah Pelajaran Renang di Sekolah Dasar?

1

Andai saat saya duduk di Sekolah Dasar sudah ada pelajaran tambahan berenang, tentu saat ini saya sudah terampil berenang tanpa takut tenggelam. Bukan saja tidak ada pelajaran tambahan berenang di sekolah, tetapi saat itu di kampung saya tidak ada kolam renang yang disewakan untuk umum. Untuk bisa berenang, kakak-kakak saya (laki-laki) belajar renang di sungai.

Saat ini, berenang menjadi pelajaran tambahan wajib di sekolah anak saya yang kecil. Belajar dari pengalaman kakaknya yang bersekolah di sekolah yang sama, maka saat libur kenaikan kelas, dari kelas 2 ke kelas 3, saya mengajak si kecil untuk ikut les renang, dengan harapan saat masuk sekolah sudah menguasai teknik dasar dan tidak takut tenggelam.

Kegiatan berenang tidak dilakukan setiap minggu, bisa 4-6 minggu sekali dan bergantung dari cuaca, bila musim hujan kegiatan tidak dilaksanakan. Selain itu, bila siswa tidak dalam kondisi sehat, diberikan izin untuk tidak mengikuti kegiatan tersebut.

Kedalaman kolam renang yang digunakan sesuai dengan rata-rata tinggi siswa di kelas, untuk siswa kelas 3 menggunakan kolam yang lebih dangkal dibanding kelas 4,5 dan 6. Sekolah mendatangkan pelatih renang dari luar sekolah untuk mengajarkan anak-anak berenang dan kegiatan tersebut tidak lebih dari satu jam. Selain pelatih renang, wali kelas ikut mendampingi untuk mengawasi siswanya dari pinggir kolam.

Karena sekolah mengetahui kekhawatiran beberapa orang tua yang takut anaknya kenapa-kenapa saat berenang, maka sekolah pun mengizinkan bila ada orang tua yang mau ikut mengawasi anaknya.

Meskipun anak saya sudah menguasai tehnik dasar berenang, saya selalu ikut mengawasi setiap kali si bungsu berenang, bukan karena tidak percaya pada guru berenang dan wali kelas, namun dengan jumlah siswa yang cukup, saya merasa lebih aman dan nyaman bila bisa mengawasinya secara langsung. Ada banyak kemungkinan yang terjadi pada anak saat ada di kolam renang, telinga kemasukan air, terpeleset dan jatuh, tiba-tiba sakit dan kemungkinan lainnya.

Saya menceritakan kegiatan renang di sekolah anak saya ini, sehubungan dengan adanya berita meninggalnya seorang siswa kelas 3 SD yang tenggelam saat kegiatan pelajaran tambahan berenang. Melihat penuturan orang tua si anak, tampak nyata kekecewaan kepada sekolah yang lalai mengawasi siswa, padahal sekolah siswa tersebut termasuk sekolah mahal.

Kasus tewasnya siswa SD karena tenggelam ini mengundang komentar Ketua Komnas Perlindungan Anak, saat di wawancara oleh Metro Tv, yang meminta agar sekolah meninjau kembali kegiatan yang dapat membahayakan siswa terutama bila tidak ada yang mengawasi dan meminta Kemendikbud untuk mengevaluasi kegiatan-kegiatan tersebut.

Apakah kegiatan berenang untuk siswa sekolah dasar tergolong membahayakan sehingga harus ditiadakan?

Selama ikut mengawasi kegiatan berenang, saya melihat bahwa berenang menjadi kegiatan menyenangkan bagi anak-anak, karena mereka dapat sekaligus bermain bersama. Selain itu, mengikuti perkembangan kemampuan teman-teman anak saya, yang tadinya sama sekali tidak pernah berenang setelah satu tahun mengikuti kegiatan tersebut, tampak sudah banyak kemajuan, dari keberanian , hingga keterampilan menggerakan kaki dan tangan.

Sejauh sekolah menyanggupi untuk mengawasi tanpa lengah kegiatan tersebut, dan jumlah pengawas sebanding dengan siswa, serta kedalaman kolam renang sesuai dengan tinggi rata-rata siswa, maka kegiatan tersebut tetap menjadi kegiatan yang positif untuk dilaksanakan. Selain itu, harus ada komunikasi yang bagus antara pihak orang tua dan pihak sekolah, contohnya bila anak mempunyai penyakit tertentu yang bisa tiba-tiba kambuh saat berenang, sebaiknya diberitahukan sehingga sekolah dapat memberi izin untuk tidak ikut kegiatan. Begitu pula halnya bila anak sedang tidak dalam kondisi yang prima.

Membekali anak dengan mengingatkan mana yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan juga termasuk hal utama yang harus diingatkan orang tua kepada anak, yang paling tepat adalah dengan memberitahukan akibat-akibatnya, misalnya bila mengalami sakit di bagian tertentu saat di kolam renang, harus segera memberitahukan pelatih dan guru kelas, tidak bermain hal yang dapat mencelakan temannya dan seterusnya.

Belajar berenang memang bisa dilakukan saat usia berapa saja, bahkan saat dewasa sekalipun, namun pengalaman saya membuktikan, belajar berenang saat masih anak-anak tampaknya lebih cepat bisa dibandingkan saat sudah dewasa, karena selain kelenturan tubuh yang sudah berkurang, adanya rasa takut juga menjadi penyebab untuk bisa cepat bisa berenang, berbeda dengan anak-anak, meskipun takut, ketika melihat teman-temannya bisa dan berani berenang, maka secara tidak langsung mendorong si anak untuk memberanikan diri, dan ini terbukti pada teman anak saya, yang awalnya hanya berani di pinggir kolam, lama-lama berani untuk mengikuti masuk ke dalam air, tentu dengan dibantu pelatih renang secara khusus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *