Tetap Tersenyum, Ni Luh Lisa Jual Garam Beli Buku Sekolah

1

Bocah perempuan itu duduk terdiam di hamparan pasir hitam.

Sesekali matanya awas memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Siapa dia?

Hamparan pasir hitam itu adalah panorama di Pantai Amed, Desa Purwakerthi, Kecamatan Abang, Karangasem-Bali

Dengan membawa wadah berisi kotak-kotak hias di tangan kiri, tanpa bicara, tangan kanan sang bocah bernama Ni Luh Lisa itu mengeluarkan selembar kertas saat seseorang menghampirinya.

Beberapa baris kalimat dalam Bahasa Inggris tertera dalam selembar kertas putih yang ia tunjukkan tersebut.

Hello, my name is Iluh. I make basket with salt inside to raise money, so I can go to school in Amed by bemo and to buy books and other supplies,” begitulah bunyi pesan yang ditulis oleh anak ketujuh dari Ni Wayan Putu, seorang petani garam lokal.

Rupanya, apa yang ia bawa bukan kotak-kotak kerajinan biasa.

Melainkan kotak anyaman dari daun lontar, berisi garam dengan jumlah sekepalan tangan anak kecil, yang ia jual sebagai souvenir kepada turis asing yang sedang berlibur di kawasan Amed.

Souvenir garam ini ia jual dengan harga Rp 30 ribu – Rp 50 ribu.

“Buat bantu meme (ibu), biar bisa beli buku sekolah,” ujar bocah perempuan yang saat ini duduk di bangku kelas 4 SD, Senin (21/9/2015).

Tak hanya Ni Luh Lisa.

Sekitar 30 anak lainnya yang berasal dari Amed dan beberapa daerah di sekitar Desa Purwakerthi, juga melakoni hal yang sama.

Menurut satu dari pemudi setempat, Ni Wayan Mertayani, dulu hanya beberapa anak saja yang berjualan garam souvenir ini, namun sekarang bertambah banyak.

“Seingatku, sejak tahun 2008, dulu masih sekitaran lima anak yang jualan seperti ini. Tapi sekarang sepertinya sudah banyak, ada kurang lebih 30 anak yang jualan garam souvenir ini,” ujar gadis yang akrab disapa Sepi ini.

Sepi pun pernah melakoni pekerjaan sebagai penjual garam souvenir semasa kecilnya.

Ia maupun anak lain menjual garam tanpa paksaan dari orang tua, benar-benar atas kemauan sendiri.

Uniknya, mereka selalu membawa kertas saat berjualan.

Tak hanya pesan dalam tulisan berbahasa Inggris, namun juga ada yang menggunakan Bahasa Prancis.

Hal ini karena wisatawan yang datang ke sana cenderung para turis.

“Jadi, setiap jualan, anak-anak ini langsung nunjukkin kertas tersebut. Ada dua, satu Bahasa Inggris dan satu lagi Prancis. Karena biasanya bule-bule dari daerah-daerah itulah yang banyak ada di sini,” ujar Sepi.

Setiap harinya, seusai pulang sekolah, berganti baju, makan, dan istirahat sejenak, anak-anak rentang usia 10 sampai 16 tahun ini kemudian berangkat untuk berjualan garam di sepanjang pantai.

Mereka lebih dulu membuat kotak-kotak wadah dari lontar di rumahnya.

Seperti Komang Ayu Puspawati, seorang gadis pembuat kerajinan wadah dari daun lontar tersebut.

Mulai pukul 13.00 Wita, anak-anak ini berjalan menyebar di beberapa titik sepanjang kawasan pariwisata di Amed.

Sehari-harinya, tiap anak mampu menjual sekitar 2 hingga 3 kotak garam souvenir.

Kehilangan waktu bermain karena berjualan, bukan perkara besar bagi mereka.

Karena aktivitas ini dilakukan bersama-sama, membuat mereka merasa apa yang dikerjakan sambil sekalian bermain bersama. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *