Bocah Ini Terbakar Lampu Colok saat Hendak Belajar karena tak ada Listrik

1

Peristiwa menyedihkan menimpa anak usia tujuh tahun Guntur.

Tubuh mungilnya terbakar pada pertengahan Juli 2015 lalu itu.

Peristiwa itupun sampai kini membuatnya bersedih karena dia harus terbaring lemah di rumah sakit.

Padahal, bocah itu sudah berangan-angan masuk sekolah dasar (SD) pada tahun ajaran Agustus 2015 lalu.

Namun, karena luka bakar di tubuhnya sangat serius, iapun belum dibolehkan sekolah.

Peristiwa nahas tersebut terjadi pada 13 Juli 2015 lalu.

Pada hari nahas itu, Guntur ingin belajar di rumah.

Meskipun ia belum masuk SD, tapi ia sangat semangat belajar lantaran ayah dan ibunya menjanjikan akan menyekolahkannya SD pada Agustus bulan depannya.

Berhubung di rumahnya tak ada listrik, Guntur berusaha mengambil lampu colok (sentir) dari dinding rumahnya.

Nahas! Saat mengambil lampu yang wadahnya berisi minyak tanah, tubuh Guntur ketumpahan minyak dan api dari lampu itu dengan cepat membakar tubuhnya.

Akibatnya, kulit tubuh Guntur mulai dari leher hingga perut melepuh

“Rumah kami tak ada listrik, jadi pakai lampu colok. Saat lampu colok mau dipakainya, tumpah. Tumpahannya kena bajunya dan membakar badannya sampai melepuh. Tadinya tahun ini masuk SD, tapi tak jadi lah karena musibah ini,” kata Syarifah Aini, ibunda Guntur saat menemani anak bungsunya tersebut di Lantai 5 Ruang 502 RSUD Karimun, Senin (21/9/2015).

Sebenarnya, Guntur sudah mendapat perawatan di RSUD Karimunpascakejadian.

Hanya saja karena orangtua Guntur tak mampu membiayai rumah sakit, akhirnya Guntur dibawa pulang orangtuanya.

“Tanggal 28 Juli kami terpaksa pulang, karena tak mampu lagi bayar obat dan rumah sakit,” ujar isteri dari Murdianto yang sehari-hari sebagai buruh lepas itu.

Dalam perawatan di rumah, luka Guntur bukannya sembuh justru bertambah parah.

Pada 14 September lalu, atas bujukan tetangganya, Aini akhirnya kembali membawa Guntur ke RSUD Karimun.

“Alhamdulillah Pak Rafiq (Aunur Rafiq) sudah datang dan membantu membebaskan biaya perawatan dan obat-obatannya,” tutur Aini.

Atas kejadian tersebut, Aini harus meluangkan waktu setiap waktu menemai si buah hati.

Tambahan penghasilannya sebagai pegawai di kedai kopi diKarimun juga berhenti.

“Sekarang bergantung bapak saja yang kadang ada kerja, kadang tidak. Bapaknya kerja serabutan, kadang kuli bangunan,” ungkapnya.

Ketua Komunitas Pemuda Terampil (Komunitas Putera) Karimun, Tri Putra Setia mengatakan sangat prihatin mendapati warga yang kesusahan.

Setelah berunding dengan pengurus, bersama Pembina Komunitas Putra, Abdul Rasyid mendatangi Guntur dan memberi bantuan untuk meringankan beban ekonomi keluarga Guntur.

“Kalau untuk perawatan dan perobatannya sudah dibantu pak Aunur Rafiq. Kita datang untuk beri bantuan kepada Guntur. Ini dari pengurus Komunitas Putra untuk sedikit meringankan keluarganya yang sulit secara ekonomi. Kita juga berharap masyarakat lain ikut tergerak membantunya,” kata Putra.

Kondisi kesehatan Guntur, secara umum terlihat masih parah karena masih terlihat kesakitan ketika berusaha menggerakkan tubuhnya.

Bagian tubuhnya dari leher hingga ke perut terlihat luka bakar serius.

“Bagusnya, Guntur sekarang sudah mau makan. Sebelumnya tak mau sama sekali. Jadi sangat kurus,” tutur Aini.

Aini mengucapkan terimakasih atas bantuan yang disampaikan Komunitas Putra tersebut.

Aini masih berharap uluran tangan masyarakat lainnya mengingat kondisi ekonomi keluarganya lumpuh ketika suaminya yang serabutan sedang tak bekerja.

Apalagi saat ini dirinya sudah tidak lagi bekerja di kedai kopi sebagai tambahan penghasilan keluarganya.

“Kalau lihat lukanya sepertinya masih lama. Harapan saya mudah-mudahan cepat sembuh biar saya bisa bekerja lagi. Kalau memang ada masyarakat yang mau bantu, saya sangat bersyukur sekali pak. Terimakasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *